Selasa, 21 Januari 2014

Pergerakan Tembaga Masih “Linglung”, Labil dalam Jangka Pendek

Pada penutupan perdagangan di bursa komoditas London hari ini harga tembaga terpantau mengalami penurunan (21/01). Harga komoditas ini melemah setelah data pertumbuhan ekonomi di China untuk kuartal keempat lalu melambat. China merupakan konsumen terbesar logam tersebut. Harga nikel anjlok paling tajam dalam empat bulan belakangan.

Ekonomi China pada kuartal keempat mengalami ekspansi sebesar 7.7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi tersebut melambat dibandingkan pertumbuhan di kuartal ketiga yang sebesar 7.8 persen.

Output industri di China melemah di bulan Desember dibandingkan dengan bulan November lalu. Pertumbuhan ekonomi China akan melambat menjadi 7.4 persen tahun ini, menurut perkiraan para analis.

Harga logam industri tampak mengalami penurunan. Tembaga untuk kontrak pengiriman tiga bulan ke depan mengalami penurunan sebesar 0.4 persen dan ditutup pada posisi 7314 dollar per metric ton. Harga tembaga untuk kontrak pengiriman bulan Maret mengalami penurunan sebesar 0.2 persen dan ditutup pada posisi 3.3375 dollar per pon di Comex New York.

Harga nikel berjangka untuk kontrak pengiriman tiga bulan ke depan di LME mengalami penurunan sebesar 1 persen menjadi 14550 dollar per ton dini hari tadi. Harga sempat bergerak anjlok sebesar 2.6 persen, terbesar sejak tanggal 20 September.

Sementara itu setelah sempat mengalami pelemahan, harga tembaga berjangka siang hari ini (21/1) dilaporkan mengalami kenaikan. Komoditas logam industri tersebut masih bergerak fluktuatif akibat kondisi tarik menarik sentimen yang terjadi saat ini. Investor rupanya masih ingin berinvestasi dalam jangka pendek sambil menunggu rilisnya data-data ekonomi dari China dan Amerika Serikat. Sebelumnya data pertumbuhan ekonomi China untuk kuartal keempat tahun 2013 dilaporkan mengalami penurunan menjadi 7,7%.

Sedangkan pekan ini para investor akan menantikan data sektor manufaktur China untuk bulan Desember 2013 dan juga data penjualan rumah di Amerika Serikat untuk bulan Desember 2013. Kedua data tersebut diprediksi akan memberikan pengaruh yang signifikan bagi harga tembaga berjangka pada pekan ini.

Harga tembaga berjangka saat ini mengalami kenaikan 0,2% menjadi 7322 dollar per metric ton di London Metal Exchange. Sedangkan di Shanghai Futures Exchange, harga tembaga melemah 0,1% menjadi 51740 yuan atau 8549 dollar per ton.

Menurut analisa dari Divisi Vibiz Research di Vibiz Consulting, pergerakan harga tembaga diprediksi akan kembali dapat berpeluang bergerak melemah. Apalagi saat ini nilai tukar yen terhadap dollar mengalami apresiasi ke posisi 104,76 per dollar AS akibat sentimen pasca rapat Bank of Japan kemarin. Keterkaitan penguatan yen terhadap dollar akan berimbas kepada penurunan saham-saham teknologi di bursa saham Jepang yang juga merupakan konsumen tembaga.

Selasa, 07 Januari 2014

Harga Karet Tocom Anjlok 3 Hari Berturut-turut, Permintaan dari China Dikhawatirkan Turun

Kabar komoditi pada perdagangan hari ini (6/1) harga karet berjangka tercatat mengalami penurunan akibat adanya laporan bahwa persediaan karet mentah di Shanghai Futures Exchange mengalami kenaikan 0,95 menjadi 176.027 ton. Jumlah persediaan tersebut merupakan yang tertinggi sejak November 2004. Banyak kalangan menilai bahwa naiknya jumlah persediaan karet di SFE akibat akumulasi penurunan permintaan karet di China selama tahun 2013 akibat adanya perlambatan perekonomian.

Harga karet berjangka hari ini turun 4,3% menjadi 262,6 yen per kilogram atau 2517 dollar per metrik ton di Tokyo Commodity Exchange. Sepanjang tahun 2013, harga karet berjangka tercatat mengalami penurunan sebesar 9,3%.

Pelemahan harga karet berjangka di TOCOM pada hari ini juga disebabkan oleh faktor kenaikan performa nilai tukar yen terhadao dollar, dimana mata uang Jepang tersebut bergerak naik ke level 104 per dollar AS hari ini sehingga memberatkan para pelaku pasar dari sisi kurs.

Pada perdagangan di bursa komoditas Tocom hari ini harga karet berjangka mengalami penurunan untuk tiga hari berturut-turut (07/01). Harga komoditas ini melempem hingga mencapai posisi paling rendah dalam lebih dari satu bulan belakangan di tengah kekhawatoran bahwa permintaan akan melemah dari China, konsumen karet terbesar di dunia.

Lembaga regulator perbankan di China mengatakan rencananya untuk mengurangi risiko likuiditas dengan melakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap transaksi antarbank dan bisnus wealth management dan investasi.

Berita ini memicu bursa saham anjlok tajam. Para pelaku pasar juga khawatir bahwa kebijakan ini akan mengakibatkan permintaan komoditas dari negara tersebut turun tajam.

Hari ini harga karet berjangka Tocom untuk kontrak pengiriman bulan Juni mengalami penurunan sebesar 1.6 persen dan mencapai level 258.3 yen per kilogram atau setara dengan 2477 dollar per metric ton. Harga karet ini merupakan yang paling rendah sejak tanggal 28 November lalu. Harga komoditas tersebut telah mengalami penurunan sebesar 5.7 persen dalam dua hari belakangan dan mengarah untuk mengalami penurunan mingguan terbesar sejak bulan Juni lalu.

Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting memperkirakan bahwa pergerakan harga karet berjangka pada perdagangan hari ini akan cenderung mengalami penurunan lanjutan. Untuk hari ini harga komoditas tersebut diperkirakan akan mengalami pergerakan pada kisaran 255 – 262 yen per kilogram.