Senin, 23 Desember 2013

Harga Kedelai Ditutup Melemah dari 1 Minggu Tertinggi oleh Potensi Naiknya Output

Berita komoditi mengenai harga kedelai berjangka untuk perdagangan kemarin tercatat mengalami kenaikan dan melanjutkan tren positif sejak perdagangan akhir pekan lalu. Cuaca kering dan tingginya temperatur rupanya masih terjadi pada Argentina yang merupakan produsen kedelai terbesar di kawasan Amerika Selatan. Kondisi tersebut telah berlangsung sejak pekan lalu dimana temperatur di negara tersebut mencapai 37 derajat celcius.

Cuaca kering yang cukup panjang terjadi di Argentina dikhawatirkan akan berimbas kepada produksi kedelai di negara tersebut dan persediaan kedelai di kawasan Amerika Selatan. Apalagi kondisi cuaca yang sama diperkirakan juga akan melanda negara tetangga, Brasil yang juga merupakan produsen pangan seperti kedelai dan jagung.

Harga kedelai berjangka mengalami kenaikan 0,6% menjadi 13,3825 dollar per bushel. Level tersebut merupakan kenaikan tertinggi sejak 11 Desember lalu. Sedangkan harga jagung turun 0,4% menjadi 4,3175 dollar per bushel.

Harga kedelai berjangka terpantau mengalami penurunan dari level tertinggi dalam satu minggu belakangan pada sesi perdagangan di CBOT yang berakhir dini hari tadi (24/12). Harga komoditas tersebut melemah di tengah spekulasi bahwa curah hujan yang cukup tinggi di Brazil dan Argentina akan membantuk progress pertumbuhan tanaman.

Kelembaban udara yang baik akan kembali terjadi di kawasan penanaman kedelai di Brazil mulai tanggal 27 Desember mendatang. Sebelumnya kondisi cuaca kering dan suhu udara panas yang terjadi mengancam kondisi tanaman sehingga mendorong harga mengalami peningkatan yang signifikan.

Harga kedelai berjangka untuk kontrak pengiriman bulan Maret mengalami penurunan sebesar 0.8 persen dan ditutup pada posisi 13.1975 dollar per bushel pada penutupan perdagangan di CBOT dini hari tadi. Harga sempat mengalami penurunan hingga ke level 13.3925 dollar yang merupakan harga paling tinggi untuk kontrak teraktif sejak tanggal 11 Desember lalu.

Sepanjang tahun 2013 ini harga kedelai telah mengalami penurunan sebesar 6.4 persen. Departemen Pertanian AS memprediksi bahwa output kedelai global akan mencapai level rekor tertinggi pada 284.9 juta metric ton.

Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting memperkirakan bahwa pergerakan harga karet berjangka pada perdagangan selanjutnya akan cenderung mengalami penurunan terbatas, terutama jelang libur Natal yang membuat pasar sepi. Untuk hari ini harga komoditas tersebut diperkirakan akan mengalami pergerakan pada kisaran 13.00 – 13.50 dollar per bushel.

Senin, 16 Desember 2013

Jelang Rapat Fed, Harga Tembaga Justru Melorot

Kabar komoditi pada akhir perdagangan di bursa komoditas London LME dan Comex di New York harga tembaga berjangka mengalami peningkatan dan membukukan rally terpanjang dalam tiga tahun belakangan (17/12). Harga tembaga mengalami peningkatan didukung oleh anjloknya pasokan hingga mencapai level paling rendah dalam 12 bulan belakangan, memberikan sinyal bahwa permintaan tembaga mengalami kenaikan seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi global.

Pasokan yang diamati oleh bursa LME London, New York dan Shanghai menunjukkan terjadinya penurunan sebesar 24 persen sejak akhir September dan mencapai level paling rendah pada tanggal 14 Desember lalu.

Data industrial production di AS mengalami kenaikan di bulan November, terbesar dalam satu tahun. Sementara itu data yang sama di Eropa mengalami kenaikan yang lebih cepat dibandingkan dengan estimasi untuk bulan Desember ini.

Harga tembaga telah mengalami rebound 12 persen sejak mencapai level paling rendah dalam nyaris tiga tahun belakangan pada bulan Juni lalu.

Harga tembaga berjangka untuk kontrak pengiriman bulan Maret di Comex mengalami peningkatan sebesar 0.5 persen dan ditutup pada posisi 3.3295 dollar per pon. Harga tembaga di New York tersebut telah membukukan rally selama tujuh sesi berturut-turut. Sementara itu di LME harga tembaga terpantau mengalami kenaikan sebesar 0.5 persen dan ditutup di posisi 7290 dollar per ton.

Sementara itu pergerakan negatif hari ini (17/12) melanda harga tembaga berjangka. Pasar logam industri rupanya masih melakukan aksi tahan posisi seiring malam ini akan dilangsungkan rapat Fed yang rencananya akan membahas sekaligus mengesahkan paket stimulus ekonomi Amerika Serikat yang akan mulai diberlakukan mulai tahun 2014 mendatang.

Selain itu, turunnya data PMI manufaktur China untuk bulan November sebesar 0,3 poin juga masih memberikan dampak yang negatif. Data tersebut juga diikuti oleh turunnya data sejenis di Perancis untuk bulan November lalu. Oleh karena itu, dengan adanya indikasi tersebut memberikan spekulasi bahwa permintaan tembaga akan mengalami penurunan dalam jangka pendek.

Harga tembaga berjangka mengalami penurunan 0,3% menjadi 7270 dollar per metrik ton di London Metal Exchange. Sepanjang tahun ini harga tembaga berjangka mengalami penurunan 8,3%.

Divisi Vibiz Research di Vibiz Consulting memprediksi bahwa harga tembaga berjangka sampai dengan malam ini diperkirakan akan masih berpeluang mengalami penurunan dengan kisaran harga antara level 7240 – 7260 dollar per metrik ton. Sore ini investor akan menantikan rilisnya data sentimen ekonomi Jerman untuk bulan November yang diprediksi akan mengalami kenaikan.

Rabu, 11 Desember 2013

Harga Jagung Melemah, Produksi Jagung Global Naik

Kabar komoditi mengenai harga jagung berjangka untuk perdagangan hari ini (11/12) terpantau mengalami pelemahan dalam dua hari terakhir. Pelemahan harga jagung berjangka saat ini disebabkan oleh adanya laporan bahwa jumlah produksi jagung global untuk tahun ini sampai dengan bulan Oktober lalu mencapai 964,28 juta metrik ton, level tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 962,83 juta metrik ton. Sedangkan dibandingkan pada bulan Oktober tahun 2012 hanya mencapai 862,88 juta metrik ton.

Kondisi tersebut memberikan sebuah spekulasi bahwa pada tahun 2014 mendatang jumlah produksi jagung global akan mengalami kenaikan mengikuti prediksi jumlah produksi gandum yang akan naik setelah dua negara produsen gandum terbesar yaitu Kanada dan Australia akan mengalami surplus produksi.

Harga jagung berjangka mengalami penurunan sebesar 0,3% menjadi 4,3475 dollar per bushel. Sedangkan harga gandum berjangka mengalami kenaikan 0,3% menjadi 6,4075 dollar per bushel.

Divisi Vibiz Research di Vibiz Consulting memprediksi bahwa pergerakan harga jagung berjangka untuk perdagangan jangka pendek diperkirakan akan bergerak melemah tipis meski tidak menutup peluang akan mengalami rebound jika musim dingin yang terjadi di Amerika Serikat mengganggu proses produksi komoditas pangan.

Selasa, 03 Desember 2013

Penurunan Kembali Berlanjut Pada Harga Tembaga

Kabar komoditi mengenai harga tembaga berjangka untuk perdagangan hari ini (2/12) tercatat mengalami penurunan. Pelemahan pergerakan komoditi bahan baku industri tersebut disebabkan oleh adanya spekulasi bahwa kebijakan tapering stimulus ekonomi Amerika Serikat yang kemungkinan besar akan diberlakukan oleh Fed akan beresiko kepada tidak optimalnya program pendorongan perekonomian.

Tekanan negatif bagi harga tembaga untuk hari ini juga datang dari flatnya data ISM manufaktur China untuk bulan November lalu yang tetap berada pada posisi 51,4 poin. Kondisi tersebut menandakan bahwa sektor manufaktur China tidak mengalami sebuah perkembangan yang berarti pada bulan lalu.

Harga tembaga berjangka mengalami penurunan sebesar 0,6% menjadi 7012 dollar per metrik ton di London Metal Exchange. Sepanjang bulan lalu harga tembaga telah mengalami penurunan sebesar 2,7%.

Tren negatif rupanya kembali terjadi pada perdagangan harga tembaga. Pada hari ini (3/12) harga komoditi logam industri tersebut tertekan oleh adanya dampak dari laporan bahwa indeks London Metal Exchange yang terdiri dari 6 logam industri yang salah satunya tembaga mengalami penurunan sebesar 13%. Dan diprediksi untuk tahun 2014 akan masih berpeluang mengalami kenaikan pada harga alumunium dan tembaga.

Selain itu, hal lain yang menjadi faktor penekan harga tembaga ialah adanya sebuah dampak dari kekhawatiran pasar logam industri akan isyu tapering stimulus ekonomi Amerika Serikat yang rupanya akan dipastikan oleh Fed. Kebijakan tersebut dikhawatirkan akan berdampak penurunan optimaliasi dari kebijakan stimulus.

Harga tembaga berjangka saat ini mengalami penurunan 6975,75 dollar per metrik ton di London Metl Exchange. Sepanjang tahun ini harga tembaga mengalami penurunan 12%.

Menurut analisa dari Divisi Vibiz Research di Vibiz Consulting, pergerakan harga tembaga untuk hari ini diperkirakan akan masih berpeluang mengalami rebound jika data PMI manufaktur Inggris untuk bulan November yang lalu dilaporkan mengalami kenaikan. Selain itu pasar esok hari juga akan menantikan rilisnya data GDP kuartal ketiga Australia.

Selasa, 26 November 2013

Sejak Kemarin Harga Tembaga Masih Melemah

Kabar komoditas mengenai harga tembaga berjangka untuk perdagangan kemarin tercatat mengalami penurunan. Komoditi logam bahan baku sektor industri tersebut disebabkan oleh adanya kekhawatiran mengenai kebijakan Fed yang akan menurunkan nominal stimulus ekonomi Amerika Serikat dalam beberapa waktu mendatang. Pasar khawatir bahwa kebijakan tersebut akan mengganggu kestabilan ekonomi terutama sektor moneter global dimana nilai tukar dollar terhadap mata uang mayoritas akan terus mengalami kenaikan.

Disaat yang bersamaan sentimen negatof juga datang dari kepastian mengenai langkah Iran yang menyetujui untuk mengurangi aktifitas penggunaan tenaga nuklir sebagai bahan energi beberapa sektor industri. Langkah yang diambil Iran tersebut dikhawatirkan akan menurunkan permintaan terhadap logam industri seperti tembaga.

Harga tembaga berjangka saat ini mengalami penurunan sebesar 0,6% menjadi 7051,25 dollar per metrik ton di London Metal Exchange. Harga tembaga pekan lalu sempat menyentuh level 7133,75 dollar per metrik ton yang merupakan level tertinggi sejak 12 November.

Sementara itu pergerakan harga tembaga berjangka untuk perdagangan hari ini (26/11) terpantau mengalami penurunan. Dalam perdagangan dua hari terakhir, harga tembaga belum mampu menunjukan indikasi penguatan seiring dengan masih kuatnya tekanan dari kemungkinan bahwa Fed akan memastikan kebijakan tapering stimulus ekonomi Amerika Serikat dalam jangka pendek.

Kepastian mengenai kebijakan tersebut akan kembali dibahas pada pertemuan Fed yang akan dilangsungkan pada 17-18 Desember mendatang. Kebijakan tapering dinilai sangat berpengaruh bagi sektor logam industri pada saat ini dimana penurunan nominal stimulus akan kurang maksimal dalam mendorong performa ekonomi AS.

Harga tembaga berjangka untuk saat ini mengalami penurunan sebesar 0,3% mmenjadi 7075,25 dollar per metrik ton di London Metal Exchange. Sedangkan di Shanghai Futures Exchange harga tembaga justru mengalami kenaikan sebesar 0,4% menjadi 50690 yuan atau 8320 dollar per ton.

Menurut analisa dari Divisi Vibiz Research di Vibiz Consulting, pergerakan harga tembaga untuk jangka pendek dinilai akan masih berpotensi mengalami kenaikan. Jelang akhir tahun pasar masih menunggu rencana kebijakan ekonomi negara-negara industri besar dalam menghadapi tahun bisnis 2014 mendatang. Seperti yang sebelumnya dilakukan oleh China yang memiliki target pertumbuhan ekonomi negaranya sebesar 8%.

Selasa, 19 November 2013

Seiring Kenaikan Yen, Harga Karet Terpangkas Melemah

Kabar komoditi mengenai harga karet berjangka mengalami penurunan di bursa komoditas Tocom kemarin (18/11). Harga karet berjangka anjlok setelah data menunjukkan bahwa pasokan karet di China membengkak hingga mencapai posisi paling tinggi dalam sembilan tahun belakangan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa permintaan karet dari negara tersebut mengalami penurunan.

Harga karet berjangka di Tocom tampak mengalami penurunan sebesar 1.1 persen mencapai level 259.3 yen per kilogram atau setara dengan 2586 dollar per metric ton hari ini. Pada tanggal 15 November lalu harga karet berjangka mengalami penutupan di level 262.1 yen per kilogram, posisi penutupan paling tinggi sejak tanggal 30 Oktober.

Pasokan karet yang diawai oleh Shanghai Futures Exchange mengalami kenaikan sebesar 6.1 persen menjadi 163,604 ton pekan lalu. Posisi pasokan karet tersebut merupakan yang paling tinggi sejak bulan November 2004. Permintaan karet dari China mencapai 35 persen dari total permintaan global tahun lalu.

Harga karet berjangka di bursa komoditas Tocom tampak mengalami penurunan lagi pada perdagangan hari ini (19/11). Harga karet melemah untuk dua hari berturut-turut seiring dengan rebound nilai tukar yen terhadap dollar AS. Hari ini yen melanjutkan kenaikannya untuk dua hari berturut-turut setelah kemarin sempat menyentuh level paling rendah dalam dua bulan belakangan terhadap dollar AS.

Nilai tukar yen menjauh dari level 100 per dollar dan hari ini berada di level 99.57 per dollar. Menguatnya yen ini menjadikan harga komoditas yang diperdagangkan dalam yen menjadi relatif lebih mahal bagi para pembeli luar negeri. Kondisi ini mengakibatkan permintaan komoditas ini mengalami penurunan.

Harga karet berjangka Tocom untuk kontrak pengiriman bulan April mengalami penurunan sebesar 1.4 persen dan diperdagangkan pada posisi 257.5 yen per kilogram hari ini, atau setara dengan 2581 dollar per ton. Sepanjang tahun 2013 ini harga karet telah mengalami penurunan sebesar 15 persen.

Harga karet berjangka kontrak Mei di Shanghai Futures Exchange mengalami penurunan sebesar 0.2 persen menjadi 19090 yuan atau 3134 dollar per ton. Pasokan karet di gudang yang dimonitor oleh bursa Shanghai mengalami kenaikan sebesar 6.1 persen pekan lalu dan mencapai posisi paling tinggi sejak bulan November 2004.

Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting memperkirakan bahwa pergerakan harga karet berjangka akan bertahan di teritori negatif. Untuk hari ini harga komoditas ini berpotensi mengalami pergerakan pada kisaran 253 – 260 yen per kilogram.

Selasa, 12 November 2013

Imbas Kenaikan Penjualan Kendaraan Bermotor China, Harga Karet Tocom Naik

Pada perdagangan kemarin harga karet berjangka tampak mengalami rebound (11/11). Harga karet terangkat dan mencapai level tertinggi dalam nyaris satu minggu belakangan. Menguatnya harga karet terjadi setelah mata uang yen Jepang tergelincir dan kembali ke level 99 per dollar. Sementara itu beberapa data ekonomi China yang rilis akhir pekan juga cukup positif sehingga memberikan dorongan kenaikan.

Harga komoditas yang diperdagangkan dalam yen menjadi relative lebih murah bagi pembeli luar negeri pada saat nilai tukar yen melemah. Dengan demikian permintaan terhadap komoditas tersebut menjadi lebih banyak. Kondisi ini terjadi pada karet berjangka di Tocom hari ini.

Sementara itu pada perdagangan hari ini harga karet berjangka di bursa komoditas Tocom mengalami peningkatan yang cukup signifikan (12/11). Harga karet berjangka naik dan masih bergerak di kisaran tertinggi dalam satu minggu belakangan setelah data penjualan kendaraan bermotor di China mengalami kenaikan terbesar sejak bulan Januari. Kondisi ini mendorong potensi peningkatan permintaan karet dari China.

Harga karet berjangka untuk kontrak pengiriman bulan April mengalami peningkatan sebesar 0.7 persen di Tocom. Hari ini harga karet berjangka diperdagangkan pada posisi 260.3 yen per kilogram atau setara dengan 2617 dollar per metric ton. Pada perdagangan kemarin harga karet berjangka mengalami peningkatan hingga mencapai posisi paling tinggi sejak tanggal 1 November.

Penjualan grosir kendaraan bermotor di China mengalami kenaikan mencapai 1.61 juta unit bulan lalu. Penjualan kendaraan bermotor tersebut mengalami kenaikan yang lebih besar dibandingkan dengan 1.5 juta unit yang diproyeksikan sebelumnya.

Kenaikan penjualan kendaraan bermotor di China meningkatkan optimisme mengenai peningkatan permintaan karet di negara tersebut.

Harga karet berjangka untuk kontrak pengiriman bulan Mei di Shanghai mengalami pergerakan yang terbatas di level 19415 yuan per ton atau setara dengan 3187 dollar per ton. Harga karet di bursa komoditas Thailand mengalami kenaikan sebesar 1.3 persen.

Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting memperkirakan bahwa pergerakan harga karet berjangka pada perdagangan hari ini akan cenderung mengalami kenaikan lanjutan. Hari ini harga komoditas tersebut diperkirakan akan mengalami pergerakan pada kisaran 258 – 263 yen per kilogram.

Rabu, 30 Oktober 2013

Dipengaruhi Bayang-bayang Surplus Produksi, Harga Jagung Melempem

Berita komoditi mengenai harga jagung berjangka jatuh ke level terendah dalam lebih dari tiga tahun terakhir dikarenakan cuaca kering yang melanda wilayah tanam di  AS akan meningkatkan prospek panen di seluruh wilayah Amerika, pemerintah memperkirakan akan menjadi pencapaian terbesar yang pernah dicapai didunia.

Petani mungkin telah menyelesaikan 50 persen dari hasil panen seperti kemarin , naik dari 39 persen minggu sebelumnya, menurut Perdana Pertanian Consultants Inc Departemen Pertanian AS akan mengeluarkan pembaruan pada kondisi tanaman hari ini . Badan ini memperkirakan bahwa output akan meningkat 28 persen dibandingkan hasil dari musim panen tahun lalu, ketika kekeringan  merusak wilayah tanam di Midwest .

Harga di Chicago telah jatuh 49 persen dari rekor tahun lalu . Pasokan global telah melonjak dari  Brazil , Argentina dan Urkraine , sedangkan panen tanaman AS rebound dibandingkan dari tahun 2.012  dimana kekeringan yang terjadi adalah yang paling parah sejak tahun 1930-an . Harga jagung yang lebih murah akan meningkatkan keuntungan bagi Archer Daniels – Midland Co – , yang membuat etanol dari gandum dan Sanderson Farms Inc , produsen unggas AS terbesar ketiga .

Perdagangan komoditi pangan untuk perdagangan hari ini terpantau masih mengalami kondisi yang melemah. Harga jagung misalnya kembali melorot setelah memperoleh tekanan dari sisi spekulasi bahwa jumlah produksi jagung pada tahun depan diperkirakan akan mengalami kenaikan. Beberapa negara produsen bahkan memperkirakan hal tersebut akan terjadi seperti pada Amerika Serikat, Rusia dan Ukraina. Baik Rusia dan Ukraina merupakan produsen terbesar jagung maupun gandum dikawasan Eropa.

Disaat yang bersamaan Departemen Pertanian AS melaporkan bahwa persediaan jagung di negaranya sampai dengan 31 Agustus lalu mengalami kenaikan sebesar 18 ribu bushel menjadi 1,855 miliar bushel. Jumlah tersebut akan bertambah mengingat saat ini sedang berlangsung proses panen jagung.

Harga jagung berjangka mengalami penurunan sebesar 2,1% menjadi 4,3075 dollar per bushel. Penurunan tersebut merupakan yang terbesar sejak 30 September lalu.

Divisi Vibiz Research di Vibiz Consulting memprediksi bahwa pergerakan harga jagung dalam jangka pendek diperkirakan akan masih berpeluang mengalami pergerakan melemah. Melimpahnya persediaan jagung global dan masih adanya pergerakan flat harga minyak mentah membuat investor belum dapat melakukan pembelian dalam jangka panjang.

Selasa, 22 Oktober 2013

Harga Gandum Melemah, Cuaca Mulai Kondusif di Rusia

Berita komoditi mengenai harga gandum untuk perdagangan kemarin tercatat mengalami kenaikan dan berhasil menyentuh level tertingginya sejak 4 bulan terakhir. Penguatan pergerakan harga gandum pada saat ini masih didominasi oleh adanya dampak dari cuaca buruk yang terjadi di beberapa negara bagian di wilayah Midwest, AS. Bahna akibat masih terjadinya curah hujan yang sangat tinggi menyebabkan jadwal panen kembali mengalami kemunduran.

Disaat yang bersamaan, pemerintah Argentina melaporkan bahwa 100 ribu hektar perkebunan gandum di provinsi Entre Rios dan La Pampa mengalami kerusakan akibat tingginya curah hujan pada bulan ini. Sama halnya dengan yang terjadi di AS, para petani gandum di Argentina juga mengalami penundaan panen gandum pada saat ini.

Harga gandum berjangka mengalami kenaikan sebesar 0,8% menjadi 7,1125 dollar per bushel. Kenaikan harga yang terjadi saat ini membuat harga gandum telah menyentuh level tertinggi sejak 21 Juni lalu.

Sementara itu pergerakan harga gandum berjangka untuk hari ini (22/10) tercatat mengalami penurunan. Pelemahan pergerakan harga gandum dipicu oleh adanya laporan bahwa cuaca di Rusia mulai kondusif. Pasca terjadinya curah hujan yang tinggi pada pekan lalu, kini cuaca terik mulai muncul sehingga memberikan situasi yang kondusif bagi pertumbuhan tanaman gandum.

Sedangkan disaat yang bersamaan, kondisi cuaca yang kondusif juga terjadi pada beberapa negara bagian di Amerika Serikat yang sebelumnya dilanda curah hujan yang tinggi sehingga membuat jadwal panen menjadi diundur. Beberapa negara bagian yang mulai kondusif cuacanya ialah Kansas, Arkansas dan Maryland.

Harga gandum berjangka mengalami penurunan sebesar 0,9% menjadi 6,9975 dollar per bushel, sedangkan harga jagung mengalami kenaikan 0,6% menjadi 4,44 dollar per bushel.

Divisi Vibiz Research di Vibiz Consulting memprediksi bahwa pergerakan harga gandum untuk hari ini akan masih bergerak melemah. Apalagi Departemen Pertanian AS hari ini menyatakan bahwa selambat-lambatnya panen gandum diseluruh negara bagian akan dilaksanakan pada pekan ini agar jadwal penanaman bibit gandum dapat sesuai rencana.

Jumat, 18 Oktober 2013

Prospek Komoditi Indonesia Sebagai Acuan Harga Dunia

Indonesia sebagai negara agraris memiliki kekayaan alam yang sangat berlimpah. Banyak komoditi Indonesia baik soft commodity maupun hard commodity mampu menduduki peringkat utama dunia. Sebagai contoh, Rempah-Rempah dan Kelapa Sawit Indonesia sebagai negara penghasil menduduki peringkat nomor satu, Karet peringkat nomor dua, Beras, Kopi, Kakao, Tembaga dan Timah peringkat nomor 3,  Batubara peringkat nomor 5 dan Emas peringkat nomor 8 urutan dunia.

• CPO
Produksi CPO di Indonesia dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan, dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 12,3%. Pada tahun 2003 produksi CPO Indonesia baru 10.440.00 ton, namun di tahun 2010 produksi CPO sudah mencapai 22.435.000 ton.
Saat ini Indonesia menguasai pangsa pasar ekspor CPO terbesar di dunia sebesar 64,53%, sementara Malaysia menguasai pangsa pasar ekspor produk turunan CPO sebesar 52,35%.

•  Karet
Produksi karet dunia dalam kurun waktu 1995-2011 menunjukkan peningkatan sebesar 1,7%. Indonesia tercatat sebagai produsen Karet terbesar kedua setelah Thailand, pada tahun 2002 mampu memproduksi sekitar 1,6 juta ton dan meningkat pada tahun 2007 menjadi 2,8  juta ton, sekalipun sempat turun pada tahun 2009 menjadi 2,5 juta ton. Selain itu Indonesia saat ini memiliki perkebunan karet rakyat terbesar di dunia dengan luas sebesar 2,93 juta hektar.  Menurut Indonesian Rubber Research Institute pada tahun 2015 dan 2020 Indonesia diproyeksikan akan menghasilkan 3,5 juta ton s/d 3,8 juta ton karet.

•  Kakao
Indonesia adalah negara penghasil kakao terbesar ketiga di dunia setelah Pantai Gading & Ghana. Dalam sebelas tahun terakhir produksi tertinggi Indonesia mencapai 621.873 ton di tahun 2006. Sejak 2011 telah terjadi revolusi kakao Indonesia, dimana Indonesia telah menjelma menjadi salah satu negara pengolah kakao terbesar di dunia. Eksporpun meningkat dari sekitar 100.000 ton di tahun 2009 menjadi diatas 300.000 ton di tahun 2012. Tidak lama lagi diprediksi Indonesia akan menjadi negara pengekspor kakao terbesar di dunia.
Bagi Indonesia komoditi kakao memiliki nilai penting, yaitu sebagai andalan ekspor, penyumbang devisa terbesar ketiga setelah sawit & karet untuk sektor pertanian, serta menghidupi lebih dari 1,3 juta kepala keluarga petani yang sebarannya ada diseluruh wilayah Indonesia.

•  Batubara
Berdasarkan angka dari Ditjen Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral,  produksi batu bara Indonesia selalu meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2003, produksi Indonesia baru sebesar 121 juta ton, dan pada tahun 2008 sudah meningkat dua kali menjadi sebesar 240 juta ton. Menariknya, pada tahun 2012, jumlah produksi batu bara Indonesia meningkat lebih dari tiga  kalinya dibanding tahun 2003, yaitu sekitar 386 juta ton.  Indonesia saat ini termasuk dalam jajaran negara produsen Batubara yang cukup besar. Pada 2011 Indonesia berada di posisi kelima terbesar produsen batubara dunia dengan produksi 376 juta ton

Fakta Penentuan Harga Komoditi
Potensi komoditi Indonesia yang demikian besar seharusnya dapat membuat Indonesia menjadi negara penentu harga komoditas dunia, paling tidak untuk komoditi-komoditi unggulan yang dihasilkan Indonesia, namun  kenyataannya harga komoditas unggulan tersebut di tentukan oleh negara-negara lain sebagai pihak konsumen.

Dalam perdagangan komoditas global, negara konsumen akan selalu berusaha untuk menekan harga komoditas unggulan Indonesia, tentunya hal ini sangat menguntungkan mereka. Penyebab utama lemahnya negosiasi dalam penentuan harga komoditi produksi Indonesia, adalah ketidak-mampuan untuk membentuk harga sendiri di dalam negerinya, maka persaingan harga yang terjadi diantara penghasil komoditas di dalam negeri dimanfaatkan oleh para konsumen.  Mereka akan semakin diuntungkan apabila pada masa panen para petani kita saling membanting harga supaya komoditasnya terjual.

Sebagai contoh, komoditi unggulan produksi Indonesia seperti kakao, kopi dan batubara, dari Desembar 2011 sampai Februari 2013, harganya cenderung terus menurun. Harga Kakao turun dari USD 2.150 menjadi USD 2.130, turun 1%. Harga Kopi mengalami penurunan dari USD 220 menjadi USD150, turun 30%, harga Batubara mengalami penurunan dari  USD115 menjadi USD95, turun 17%.
Sementara untuk komoditi yang produsennya berasal dari luar negeri, seperti kedelai, jagung dan gandum mampu meningkatkan harga. Sebagai contoh harga kedelai yang di kuasai oleh negara produsen AS naik dari USD 1.150 menjadi USD 1.470,

Senin, 30 September 2013

Dibayangi Masalah Anggaran Amerika Harga Kedelai Turun

Berita komoditi hari ini datang dari harga kedelai berjangka yang mengalami kenaikan pada hari ini dan melanjutkan penguatan sejak kemarin. Kenaikan harga komoditi pangan tersebut disebabkan oleh adanya sentimen spekulasi mengenai curah hujan di Midwest yang akan masih berlanjut untuk pekan ini. Dengan adanya spekulasi tersebut maka curah hujan di beberapa negara bagian di Midwest akan berlanjut sejak awal pekan ini.

Disaat yang bersamaan, proses penanaman bibit kedelai di AS diperkirakan akan mengalami perubahan jadwal setelah sebelumnya dijadwalkan akan dilaksanakan pada awal bulan Oktober. Sedangkan menurut Departemen Pertanian AS memperkirakan bahwa waktu penanaman kedelai akan diundur pada pertengahan bulan Oktober seiring dengan curah hujan yang tinggi saat ini.

Harga kedelai berjangka saat ini mengalami kenaikan sebesar 0,3% menjadi 13,165 dollar per bushel. Sedangkan harga jagung mengalami kenaikan 0,2% menjadi 4,4975 dollar per bushel.

Divisi Vibiz Research di Vibiz Consulting memprediksi bahwa pergerakan harga kedelai diperkirakan akan masih berpeluang mengalami kondisi yang labil. Apalagi Departemen Pertanian AS menyatakan bahwa panen kedelai tahun ini akan lebih banyak sebesar 4,4% dibandingkan tahun lalu. Kisaran logis bagi harga kedelai akan berada pada kisaran level 13,00 – 13,100 dollar per bushel.

Harga kedelai turun , menutup keuntungan yang dicapai selama satu kuartal pertama dalam setahun , juga terganggu akan kemungkinan shutdown pemerintah AS yang dapat mengganggu inspeksi tanaman, sementara cuaca menguntungkan bisa meningkatkan prospek panen. Harga jagung dan gandum turun .

Kedelai untuk pengiriman November turun sebanyak 0,8 persen menjadi $ 13,09 per bushel di Chicago Board of Trade dan diperdagangkan di $ 13,1075 pada 11:29 di Singapura . Harga sudah naik 4,7 persen sejak akhir Juni .

Pemerintah AS menghadapi risiko shutdown pertama dalam 17 tahun mulai besok karena kebuntuan anggaran , dan kecuali perbedaan dapat diselesaikan, sebanyak 800.000 pegawai federal akan cuti . Cahaya hujan moderat terlihat di Midwest Barat melalui Plains tenggara pada 28 September , dengan tren kering di tempat lain , DTN mengatakan dalam sebuah perkiraan yang dikeluarkan pada tgl 27 September .

Jagung untuk pengiriman Desember turun 0,2 persen menjadi $ 4,53 per bushel di Chicago . Harga jagung sudah kehilangan 11 persen sejak akhir Juni , menuju retret kuartalan berturut-turut itu akan menjadi kemerosotan terpanjang sejak 2009 .

Gandum untuk pengiriman Desember turun 0,3 persen menjadi $ 6,8125 per bushel di Chicago . Harga sudah naik 3,6 persen sejak akhir Juni.

Rabu, 25 September 2013

Akibat Cuaca Kering, Harga Kedelai Naik

Berita komoditi kali ini datang dari penutupan sesi perdagangan di CBOT dini hari tadi yang mengabarkan bahwa harga kedelai berjangka mengalami kenaikan setelah selama tiga hari berturut-turut sebelumnya terjerumus di teritori negatif (25/09). Harga komoditas tersebut terangkat di tengah sinyal bahwa tanaman kedelai di AS tidak mendapatkan manfaat dari curah hujan yang terjadi baru-baru ini. Berkebalikan dengan kenaikan harga kedelai, harga komoditas grains lain yaitu jagung dan gandum justru berakhir melemah.

Kondisi kedelai di AS tidak berubah per tanggal 22 September, dibandingkan dengan satu pekan sebelumnya. Hanya setengah tanaman yang dikategorikan dalam kondisi baik dan sangat baik. meskipun curah hujan yang cukup besar terjadi di kawasan penanaman kedelai, kondisi tersebut tampak tidak berpengaruh besar terhadap kondisi tanaman.

Harga komoditi kedelai berjangka untuk kontrak pengiriman bulan November mengalami kenaikan sebesar 0.6 persen dan ditutup pada posisi 13.16 dollar per bushel dini hari tadi. Harga telah mengalami penurunan selama 3 sesi berturut-turut sebelumnya.

Harga kedelai naik untuk hari kedua di tengah spekulasi bahwa hujan di Midwest tidak akan cukup untuk meningkatkan kondisi tanaman di AS, produsen kedelai terbesar dunia.

Bibit minyak untuk pengiriman November naik 0,4 persen menjadi $ 13,18 per bushel di Chicago Board of Trade pada 10:17 pagi di Singapura. Harga turun menjadi $ 13,0525 kemarin, terendah sejak 23 Agustus, sebelum ditutup 0,4 persen lebih tinggi.

Kondisi tanaman tidak berubah pada 22 September dari minggu sebelumnya, dengan 50 persen tanaman dinilai baik atau sangat baik, demikian data dari Departemen Pertanian AS. Sementara USDA mengharapkan panen tahun ini menjadi 4,4 persen lebih besar dari tahun lalu, lembaga ini memangkas proyeksi pada 12 September sebagai akibat kondisi kekeringan yang meluas di bagian Midwest.

Kedelai menuju kemajuan kuartalan pertama dalam setahun setelah mendaki selama enam dari tujuh minggu terakhir di tengah cuaca panas, kering di Midwest. Sejak awal tahun ini, harga telah turun 6,5 persen.

Harga jagung untuk pengiriman Desember tidak berubah pada $ 4,4875 per bushel di Chicago. Gandum untuk pengiriman Desember naik 0,2 persen menjadi $ 6,5925 per bushel.

Selasa, 17 September 2013

Hasil Produksi Gula di Brasil Dinilai Akan Menurun

Kembali mengenai kabar komoditi dunia tentang surplus gula global yang nampaknya mengalami penurunan yang signifikan seiring dengan peningkatan permintaan gula dari negara-negara berkembang mulai dari China hingga Indonesia. Tahun depan kedua negara ini diperkirakan akan meningkatkan permintaan gulanya sehingga surplus akan terkikis.

Kenaikan konsumsi gula diperkirakan bisa mencapai angka 3 juta metric ton dibandingkan dengan antisipasi pada awal musim 2012-13 lalu. Sementara itu itu output gula saat ini diperkirakan mencapai angka 183 juta metric ton.

Saat ini surplus gula berada di sekitar 10 juta metric ton yang merupakan level rekor tertinggi. Akan tetapi impor gula dari Indonesia diperkirakan akan mengalami peningkatan dua kali lipat tahun ini dan permintaan dari China juga akan mencapai rekor baru. Dengan adanya kenaikan permintaan ini artinya surplus gula global tidak lagi sebesar yang tampak.

Sementara itu Harga gula berjangka untuk perdagangan hari ini tercatat mengalami rebound. Harga komoditi lunak tersebut terangkat oleh adanya prediksi yang dikeluarkan oleh Czarnikow Group yang menyatakan bahwa produksi gula di Brasil untuk tahun depan akan mengalami penurunan menjadi 2 juta ton atau lebih rendah dibandingkan dengan prediksi produksi pada tahun ini yang diperkirakan akan sebesar 3,9 juta ton.

Sedangkan disaat yang bersamaan produksi gula di Brasil pada bulan ini diperkirakan akan mengalami gangguan mengingat curah hujan di Sao Paolo yang merupakan provinsi penghasil gula terbesar di Brasil sangat tinggi dalam sepekan terakhir. Menurut prediksi dari Badan Cuaca Brasil, curah hujan yang cukup tinggi akan masih melanda mayoritas daerah di Brasil untuk pekan depan.

Harga gula berjangka saat ini mengalami kenaikan sebesar 1% menjadi 16,68 sen per pon, harga kopi jenis arabika naik 0,9% menjadi 1,1785 dollar per pon dan harga kakao naik 0,1% menjadi 2569 dollar per ton.

Estimasi harga gula untuk hari ini diperkirakan akan masih mengalami kenaikan. Hal tersebut dipicu oleh laporkan tingkat pengangguran AS untuk bulan Agustus lalu yang mengalami penurunan sebesar 0,1% menjadi 7,3% dan data penyerapan tenaga kerja sektor swasta mengalami kenaikan sebesar 65 ribu orang menjadi 169 ribu orang di bulan Agustus.

Selasa, 23 Juli 2013

Produksi Gula Dunia Turun di tengah Melemahnya Pasar

Info Komoditas , Produksi Gula Dunia Turun di tengah Melemahnya PasarBerita komoditi dunia hari ini mengabarkan jika produksi gula akan turun 1,8 persen menjadi 178.500.000 metrik ton pada tahun pemasaran yang dimulai 1 Oktober sementara permintaan naik 1,9 persen menjadi 175 juta ton demikian perkiraan International Sugar Organization yang berbasis di London. Harga gula di bursa berjangka akan rally sebanyak 13 persen menjadi 18,5 sen per pon untuk kontrak bulan Maret, yang meruepakan akhir musim di Brasil, produsen terbesar di dunia.

harga gula anjlok 55 persen sejak mencapai harga tertingginya untuk tiga dekade di tahun 2011 setelah Brasil, Australia dan Meksiko menaikkan produksi.Macquarie Group Ltd, bank investasi terbesar Australia, mengatakan kebutuhan gula akan melebihi pasokan sebesar 2,5 juta ton pada 2014-2015, kekurangan pertama dalam lima tahun.

Produksi Turun

Global konsumsi gula per kapita telah berkembang menjadi sekitar 23 kilogram (£ 50,7), dari sekitar 5,1 kilogram pada awal abad ke-20, menurut Sucres et Denrees SA. Orang Israel mengkonsumsi gula paling banyak, 66 kilogram per orang sementara orang Bangladesh hanya 8 kilogram.

Gula mentah turun 16 persen menjadi 16,37 sen per pon di ICE Futures AS di New York tahun ini, komoditas pertanian berkinerja terburuk kedua di Standard & Poor GSCI Index dari 24 bahan baku, yang naik 0,9 persen. MSCI All-Country World Index ekuitas naik 10 persen dan Bank of America Corp menunjukkan indeks Treasuries kehilangan 2,4 persen.

Bit akan memberikan kontribusi paling besar terhadap penurunan produksi karena petani perlu menanam kembali setiap tahun. Cane regrows selama beberapa musim. Petani di India, 28-negara Uni Eropa dan Rusia memotong areal karena harga jatuh, kata Leonardo Bichara Rocha, seorang ekonom senior di ISO. Kelompok, yang anggotanya termasuk lebih dari 80 negara, yang akan mempersempit surplus di level 3,5 juta ton musim depan, dari rekor 10 juta ton.

Petani Bit

Negara penghasil bit, yang menyumbang 19 persen dari pasar, akan memangkas produksi sebesar 8,3 persen menjadi 34,3 juta ton musim depan, perkiraan Grup Czarnikow. Perusahaan yang berbasis di London, yang diperdagangkan 2,4 juta ton gula mentah tahun lalu, mengantisipasi kenaikan 300.000 ton tebu yang diturunkan pasokan 148.500.000 ton.

Harga mungkin terus jatuh karena produksi Brasil tidak mencapai puncaknya sampai Juli atau Agustus. Harga di bursa berjangka akan turun in drop serendah 14 sen menjadi 15 sen, sebelum rebound untuk sebanyak 18,5 sen pada bulan Maret, kata Paul Deane, ekonom pertanian di Australia & Selandia Baru Banking Group Ltd di Melbourne.

Output Brasil akan memperluas sekitar 2,5 persen menjadi 41 juta ton pada tahun pemasaran lokal yang dimulai tanggal 1 April, kata Bichara Rocha. The real Brasil, yang melemah bulan ini ke tingkat terendah terhadap dolar sejak 2009, adalah memacu ekspor. Pengiriman meningkat 13 persen di bulan Mei dan 16 persen pada Juni dari bulan sebelumnya, data pemerintah menunjukkan.

Panen di Thailand

Thailand, pengirim terbesar setelah Brazil, akan meningkatkan output 10 persen ke rekor 11 juta ton pada tahun yang dimulai pada bulan November, menurut Thai Sugar Millers Ekspor Corp akan naik sebanyak 6,7 persen menjadi 8 juta ton dari estimasi 7,5 juta ton, perkiraan kelompok yang berbasis di Bangkok.

Harga mungkin tidak akan melebihi 18 sen tahun ini karena tanaman rekor musim sebelumnya diperbesar stok yang masih perlu dikonsumsi, Citigroup Inc mengatakan dalam sebuah laporan 15 Juli. Departemen Pertanian AS memprediksi cadangan global sebesar 38,2 juta ton pada akhir tahun 2013-2014, sekitar 17 persen lebih tinggi dari rata-rata selama lima tahun terakhir.

USDA memprediksi ekspansi 4,8 persen dalam impor global rekor 52.300.000 ton karena harga yang lebih rendah memacu permintaan global. Dari 20 pembeli terbesar, 17 akan meningkatkan impor pada 2013-2014, departemen mengatakan.

India, petani terbesar setelah Brazil, akan menghasilkan 23,5 juta ton musim depan, atau berkurang sekitar 1,5 juta ton kurang

Itu masih lebih daripada yang diantisipasi oleh beberapa analis. Kingsman SA memperkirakan 22,3 juta ton dan sekarang memprediksi 23 juta ton menjadi 24 juta ton setelah musim hujan lebih berat dari yang diperkirakan. The Lausanne, Swiss-perusahaan berbasis penelitian adalah unit dari McGraw-Hill Financial Inc (MHFI) 's Platts.

Petani di China, konsumen terbesar ketiga, akan mengurangi area penanaman tebu sekitar 2 persen menjadi 1,75 juta hektar (4.320.000 hektar), perkiraan USDA. Produksi di AS, pengimpor terbesar ketiga, akan turun 4,1 persen menjadi sekitar 7,84 juta ton, departemen memperkirakan.

Millers di Brasil tengah-selatan, daerah berkembang utama, akan mengalihkan tebu untuk meningkatkan produksi etanol setelah hujan memotong potensi tanaman untuk menghasilkan gula, menurut Datagro Ltd, perusahaan riset Barueri, berbasis Brasil. Millers akan menggunakan 53,8 persen dari tebu untuk membuat biofuel, dari perkiraan sebelumnya 52,6 persen.

Permintaan Biofuel

Harga etanol hydrous di pompa, bahan bakar yang digunakan untuk mobil flex-fuel listrik Brasil, adalah 62,3 persen menjadi 63 persen yang bensin, sehingga lebih menarik bagi konsumen. Yang harus Permintaan untuk biofuel yang berasal dari tebu akan meningkat akibatnya akan mendorong lebih banyak tebu untuk dialihkan ke produksi biofuel .

Kamis, 04 Juli 2013

Penguatan Harga Gandum Berlanjut Dalam Dua Minggu di Asia

Penguatan Harga Gandum Berlanjut Dalam Dua Minggu di AsiaHarga komoditi gandum berjangka naik tertinggi dalam dua minggu tanda-tanda peningkatan permintaan setelah pembelian oleh Mesir dan China. Sementara harga kedelai menguat, jagung tidak berubah.

Sementara di Mesir, importir gandum top dunia, membeli 180.000 metrik ton Ukraina dan Rumania gandum kemarin dalam tender pertama sejak Februari. Negara ini mengatakan pada bulan Juni itu cukup persediaan untuk bertahan sampai pertengahan November. Eksportir AS melaporkan penjualan 360.000 ton dari berbagai musim dingin merah lembut ke China. Kemarin, futures turun ke level terendah dalam 12 bulan.

Harga komoditi gandum berjangka untuk pengiriman September naik 1 persen untuk menetap di $ 6,65 per bushel pada siang hari di Chicago Board of Trade, kenaikan terbesar untuk kontrak teraktif sejak 19 Juni. Perdagangan ditutup awal hari ini, dan CBOT akan ditutup besok untuk liburan Hari Kemerdekaan AS.

Harga gandum ini telah turun 15 persen tahun ini karena spekulasi bahwa produksi global akan rebound berikut laporan cuaca musim kering di Negara-negara eksportir seperti Rusia, Eropa Timur dan Amerika Serikat, eksportir terbesar.

Lembaga gandum-Cadangan devisa China membeli gandum dari AS melalui pedagang peemerintah COFCO Corp dalam transaksi yang bisa mencapai 600.000 ton demikian menurut dua eksekutif yang meminta untuk tidak diidentifikasi karena informasi yang bersifat pribadi.

Nonghyup Pakan Inc, atas pakan miller Korea Selatan, membeli jumlah yang tidak diungkapkan gandum untuk pengiriman Oktober.

Kedelai berjangka untuk pengiriman November naik 0,7 persen menjadi $ 12,5075 per bushel di Chicago, gertakan penurunan lima sesi, kemerosotan terpanjang sejak pertengahan Maret.

Jagung berjangka untuk pengiriman Desember tidak berubah pada $ 5,0275 per bushel di CBOT. Kemarin, harga menyentuh $ 4,965, terendah sejak Oktober 2010. Perdagangan turun 60 persen dari rata-rata 100-hari saat ini hari, menurut data yang dikumpulkan oleh Bloomberg.

Jagung merupakan tanaman terbesar AS, diikuti oleh kedelai, jerami dan gandum demikian data yang ditunjukkan

Rabu, 03 Juli 2013

Hantaman Kondisi Fundamental Makin Menekan Harga Karet

Sebagai salah satu komoditi utama pada sektor industri, karet dalam bulan ini cukup mengalami tekanan yang berarti di pasar komoditi global akibat sentimen negatif mengenai prospek ekonomi negara-negara industri. Korelasi positif antara faktor fundamental dengan pergerakan harga karet cukup dominan sejak awal bulan Juni ini. Pada pekan pertama bahkan harga karet sempat mengalamu penurunan ke level terendahnya dalam 7 pekan terakhir akibat munculnya spekulasi mengenai akan ditundanya kebijakan stimulu ekonomi yang akan diluncurkan oleh Fed. Bukan itu saja, nominal stimulus yang sebelumnya direncanakan sebesar 85 miliar dollar diperkirakan akan dikurangi seiring dengan terjadinya defisit anggaran Amerika Serikat yang terjadi di kuartal pertama tahun 2013.

Sentimen mengenai stimulus ekonomi dunia tersebut berhasil menggeser sentimen positif yang datang di awal bulan dari China dimana data penjualan otomotif untuk bulan Mei dilaporkan mengalami kenaikan sebesar 9% menjadi 1,4 juta unit. Peningkatan penjualan otomotif di China untuk bulan Mei lalu melanjutkan kenaikan penjualan otomotif di negara tersebut setelah di bulan April juga dilaporkan bahwa penjualan otomotif sempat naik 13%. Naiknya penjualan otomotif yang terjadi dalam dua bulan terakhir memberikan jawaban terhadap pesimisnya pasar terhadap permintaan produk-produk otomotif terutama mobil yang di awal tahun diprediksi akan mengalami penurunan di tahun 2013 akibat sentimen perlambatan ekonomi China.
Diwaktu yang hampir bersamaan, Departemen Perdagangan AS merilis laporan bahwa penjualan mobil untuk bulan Mei mengalami kenaikan sebesar 8,2% menjadi 1,44 juta unit. Kenaikan penjualan mobil tersebut didominasi oleh jenis van dan juga city car yang kini menjadi incaran utama bagi warga perkotaan dibandingkan mobil besar. Di pekan pertama, harga karet berada di kisaran antara level 2500 – 2520 dollar per metric ton atau 240 – 260 yen per kilogram di Tokyo Commodity Exchange.

Pelemahan kembali berlanjut pada pekan kedua bulan ini setelah nilai tukar yen terhadap dollar mengalami kenaikan sehingga berimbas negatif bagi harga-harga saham sektor eksportir di bursa saham Jepang yang didominasi oleh industri otomotif dan elektronik yang merupakan konsumen karet. Bahkan sampai dengan akhir pekan kedua nilai tukar yen terus mengalami kenaikan terhadap dollar AS dan bercokol di level 94,12 per dollar AS atau merupakan level tertinggi sejak 4 April lalu. Kenaikan performa yen tidak terlepas dari imbas pernyataan Bank of Japan yang menyatakan tidak akan melakukan intervensi moneter melalui stimulus ekonomi dalam waktu dekat.

Tren Pergerakan Harga Karet TOCOM


Jika kita melihat chart diatas, maka kita bisa melihat bahwa pergerakan harga karet terus mengalami penurunan sejak awal tahun. Proyeksi perlambatan ekonomi di banyak negara industri menjadi isyu dominan sepanjang tahun ini. Apalagi pada pekan ini Bank Dunia menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2013 diprediksi akan sebesar 2,2% atau lebih rendah dibandingkan prediksi awal tahun yang sebesar 2,4%. Untuk perekonomian Eropa diprediksi akan turun 0,1% menjadi 0,6% dan pertumbuhan ekonomi AS akan stabil di level 2%. Potensi pelemahan juga masih akan berlanjut seiring masih belum adanya kepastian mengenai realisasi kebijakan stimulus ekonomi Amerika Serikat.

Lalu bagaimana industri karet lokal dalam menyikapi hal tersebut?

Tak berbeda jauh dengan kondisi perdagangan harga karet di pasar global, Indonesia sebagai salah satu produsen karet terbesar dunia setelah Thailand dan Malaysia juga merasakan dampak dari kurang menguntungkannya harga pasaran karet saat ini. Imbas dari penurunan permintaan di beberapa negara baik China dan negara-negara Eropa merupakan momok yang menekan industry karet dalam negeri. Berkurangnya permintaan rupanya tidak seimbang dengan jumlah output yang normal. Sampai dengan akhir bulan April lalu produksi karet masih cukup melimbah di beberapa wilayah perkebunan karet di Indonesia seperti Sumatera Utara dan Jawa Timur.

Menurut Direktur Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo), Rusdan Dalimunthe, produksi karet di Indonesia untuk tahun 2013 diprediksi akan mencapai 3,1 juta ton atau akan lebih tinggi dibandingkan dengan produksi tahun lalu yang mencapai 3,04 juta ton. Sedangkan dari segi harga, sampai dengan akhir bulan Mei lalu, harga karet lokal masih fluktuatif dikisaran antara Rp 5000 – Rp 6000 per kilogram.

Pasar sendiri cukup khawatir bahwa Indonesia akan mengalami surplus produksi karet ditengah masih melambannya permintaan karet global. Mengingat Indonesia saat ini berstatus sebagai eksportir karet mentah yang sangat tergantung kepada kondisi fundamental ekonomi global. Ditengah kondisi seperti itu, pemerintah harusnya mulai mulai menggalakkan konsep pengolahan karet dari hulu ke hilir. Sehingga potensi surplus produksi dan persediaan dapat ditanggulangi dengan membangu industri-industri masif yang menggunakan karet sebagai salah satu bahan baku utamanya. Dan disisi lain, kebijakan tersebut juga dapat mendorong perekonomian dalam negeri dan dapat meningkatkan nilai tambah bagi produk-produk yang berbahan dasar karet.