Rabu, 03 Juli 2013

Hantaman Kondisi Fundamental Makin Menekan Harga Karet

Sebagai salah satu komoditi utama pada sektor industri, karet dalam bulan ini cukup mengalami tekanan yang berarti di pasar komoditi global akibat sentimen negatif mengenai prospek ekonomi negara-negara industri. Korelasi positif antara faktor fundamental dengan pergerakan harga karet cukup dominan sejak awal bulan Juni ini. Pada pekan pertama bahkan harga karet sempat mengalamu penurunan ke level terendahnya dalam 7 pekan terakhir akibat munculnya spekulasi mengenai akan ditundanya kebijakan stimulu ekonomi yang akan diluncurkan oleh Fed. Bukan itu saja, nominal stimulus yang sebelumnya direncanakan sebesar 85 miliar dollar diperkirakan akan dikurangi seiring dengan terjadinya defisit anggaran Amerika Serikat yang terjadi di kuartal pertama tahun 2013.

Sentimen mengenai stimulus ekonomi dunia tersebut berhasil menggeser sentimen positif yang datang di awal bulan dari China dimana data penjualan otomotif untuk bulan Mei dilaporkan mengalami kenaikan sebesar 9% menjadi 1,4 juta unit. Peningkatan penjualan otomotif di China untuk bulan Mei lalu melanjutkan kenaikan penjualan otomotif di negara tersebut setelah di bulan April juga dilaporkan bahwa penjualan otomotif sempat naik 13%. Naiknya penjualan otomotif yang terjadi dalam dua bulan terakhir memberikan jawaban terhadap pesimisnya pasar terhadap permintaan produk-produk otomotif terutama mobil yang di awal tahun diprediksi akan mengalami penurunan di tahun 2013 akibat sentimen perlambatan ekonomi China.
Diwaktu yang hampir bersamaan, Departemen Perdagangan AS merilis laporan bahwa penjualan mobil untuk bulan Mei mengalami kenaikan sebesar 8,2% menjadi 1,44 juta unit. Kenaikan penjualan mobil tersebut didominasi oleh jenis van dan juga city car yang kini menjadi incaran utama bagi warga perkotaan dibandingkan mobil besar. Di pekan pertama, harga karet berada di kisaran antara level 2500 – 2520 dollar per metric ton atau 240 – 260 yen per kilogram di Tokyo Commodity Exchange.

Pelemahan kembali berlanjut pada pekan kedua bulan ini setelah nilai tukar yen terhadap dollar mengalami kenaikan sehingga berimbas negatif bagi harga-harga saham sektor eksportir di bursa saham Jepang yang didominasi oleh industri otomotif dan elektronik yang merupakan konsumen karet. Bahkan sampai dengan akhir pekan kedua nilai tukar yen terus mengalami kenaikan terhadap dollar AS dan bercokol di level 94,12 per dollar AS atau merupakan level tertinggi sejak 4 April lalu. Kenaikan performa yen tidak terlepas dari imbas pernyataan Bank of Japan yang menyatakan tidak akan melakukan intervensi moneter melalui stimulus ekonomi dalam waktu dekat.

Tren Pergerakan Harga Karet TOCOM


Jika kita melihat chart diatas, maka kita bisa melihat bahwa pergerakan harga karet terus mengalami penurunan sejak awal tahun. Proyeksi perlambatan ekonomi di banyak negara industri menjadi isyu dominan sepanjang tahun ini. Apalagi pada pekan ini Bank Dunia menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2013 diprediksi akan sebesar 2,2% atau lebih rendah dibandingkan prediksi awal tahun yang sebesar 2,4%. Untuk perekonomian Eropa diprediksi akan turun 0,1% menjadi 0,6% dan pertumbuhan ekonomi AS akan stabil di level 2%. Potensi pelemahan juga masih akan berlanjut seiring masih belum adanya kepastian mengenai realisasi kebijakan stimulus ekonomi Amerika Serikat.

Lalu bagaimana industri karet lokal dalam menyikapi hal tersebut?

Tak berbeda jauh dengan kondisi perdagangan harga karet di pasar global, Indonesia sebagai salah satu produsen karet terbesar dunia setelah Thailand dan Malaysia juga merasakan dampak dari kurang menguntungkannya harga pasaran karet saat ini. Imbas dari penurunan permintaan di beberapa negara baik China dan negara-negara Eropa merupakan momok yang menekan industry karet dalam negeri. Berkurangnya permintaan rupanya tidak seimbang dengan jumlah output yang normal. Sampai dengan akhir bulan April lalu produksi karet masih cukup melimbah di beberapa wilayah perkebunan karet di Indonesia seperti Sumatera Utara dan Jawa Timur.

Menurut Direktur Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo), Rusdan Dalimunthe, produksi karet di Indonesia untuk tahun 2013 diprediksi akan mencapai 3,1 juta ton atau akan lebih tinggi dibandingkan dengan produksi tahun lalu yang mencapai 3,04 juta ton. Sedangkan dari segi harga, sampai dengan akhir bulan Mei lalu, harga karet lokal masih fluktuatif dikisaran antara Rp 5000 – Rp 6000 per kilogram.

Pasar sendiri cukup khawatir bahwa Indonesia akan mengalami surplus produksi karet ditengah masih melambannya permintaan karet global. Mengingat Indonesia saat ini berstatus sebagai eksportir karet mentah yang sangat tergantung kepada kondisi fundamental ekonomi global. Ditengah kondisi seperti itu, pemerintah harusnya mulai mulai menggalakkan konsep pengolahan karet dari hulu ke hilir. Sehingga potensi surplus produksi dan persediaan dapat ditanggulangi dengan membangu industri-industri masif yang menggunakan karet sebagai salah satu bahan baku utamanya. Dan disisi lain, kebijakan tersebut juga dapat mendorong perekonomian dalam negeri dan dapat meningkatkan nilai tambah bagi produk-produk yang berbahan dasar karet.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar