Sebagai salah satu komoditi utama pada
sektor industri, karet dalam bulan ini cukup mengalami tekanan yang
berarti di pasar komoditi global akibat sentimen negatif mengenai
prospek ekonomi negara-negara industri. Korelasi positif antara faktor
fundamental dengan pergerakan harga karet cukup dominan sejak awal bulan
Juni ini. Pada pekan pertama bahkan harga karet sempat mengalamu
penurunan ke level terendahnya dalam 7 pekan terakhir akibat munculnya
spekulasi mengenai akan ditundanya kebijakan stimulu ekonomi yang akan
diluncurkan oleh Fed. Bukan itu saja, nominal stimulus yang sebelumnya
direncanakan sebesar 85 miliar dollar diperkirakan akan dikurangi
seiring dengan terjadinya defisit anggaran Amerika Serikat yang terjadi
di kuartal pertama tahun 2013.
Sentimen
mengenai stimulus ekonomi dunia tersebut berhasil menggeser sentimen positif
yang datang di awal bulan dari China dimana data penjualan otomotif
untuk bulan Mei dilaporkan mengalami kenaikan sebesar 9% menjadi 1,4
juta unit. Peningkatan penjualan otomotif di China untuk bulan Mei lalu
melanjutkan kenaikan penjualan otomotif di negara tersebut setelah di
bulan April juga dilaporkan bahwa penjualan otomotif sempat naik 13%.
Naiknya penjualan otomotif yang terjadi dalam dua bulan terakhir
memberikan jawaban terhadap pesimisnya pasar terhadap permintaan
produk-produk otomotif terutama mobil yang di awal tahun diprediksi akan
mengalami penurunan di tahun 2013 akibat sentimen perlambatan ekonomi
China.
Diwaktu yang hampir bersamaan,
Departemen Perdagangan AS merilis laporan bahwa penjualan mobil untuk
bulan Mei mengalami kenaikan sebesar 8,2% menjadi 1,44 juta unit.
Kenaikan penjualan mobil tersebut didominasi oleh jenis van dan juga
city car yang kini menjadi incaran utama bagi warga perkotaan
dibandingkan mobil besar. Di pekan pertama, harga karet berada di
kisaran antara level 2500 – 2520 dollar per metric ton atau 240 – 260
yen per kilogram di Tokyo Commodity Exchange.
Pelemahan
kembali berlanjut pada pekan kedua bulan ini setelah nilai tukar yen
terhadap dollar mengalami kenaikan sehingga berimbas negatif bagi
harga-harga saham sektor eksportir di bursa saham Jepang yang didominasi
oleh industri otomotif dan elektronik yang merupakan konsumen karet.
Bahkan sampai dengan akhir pekan kedua nilai tukar yen terus mengalami
kenaikan terhadap dollar AS dan bercokol di level 94,12 per dollar AS
atau merupakan level tertinggi sejak 4 April lalu. Kenaikan performa yen
tidak terlepas dari imbas pernyataan Bank of Japan yang menyatakan
tidak akan melakukan intervensi moneter melalui stimulus ekonomi dalam
waktu dekat.
Tren Pergerakan Harga Karet TOCOM
Jika
kita melihat chart diatas, maka kita bisa melihat bahwa pergerakan
harga karet terus mengalami penurunan sejak awal tahun. Proyeksi
perlambatan ekonomi di banyak negara industri menjadi isyu dominan
sepanjang tahun ini. Apalagi pada pekan ini Bank Dunia menyatakan bahwa
pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2013 diprediksi akan sebesar 2,2%
atau lebih rendah dibandingkan prediksi awal tahun yang sebesar 2,4%.
Untuk perekonomian Eropa diprediksi akan turun 0,1% menjadi 0,6% dan
pertumbuhan ekonomi AS akan stabil di level 2%. Potensi pelemahan juga
masih akan berlanjut seiring masih belum adanya kepastian mengenai
realisasi kebijakan stimulus ekonomi Amerika Serikat.
Lalu bagaimana industri karet lokal dalam menyikapi hal tersebut?
Tak
berbeda jauh dengan kondisi perdagangan harga karet di pasar global,
Indonesia sebagai salah satu produsen karet terbesar dunia setelah
Thailand dan Malaysia juga merasakan dampak dari kurang menguntungkannya
harga pasaran karet saat ini. Imbas dari penurunan permintaan di
beberapa negara baik China dan negara-negara Eropa merupakan momok yang
menekan industry karet dalam negeri. Berkurangnya permintaan rupanya
tidak seimbang dengan jumlah output yang normal. Sampai dengan akhir
bulan April lalu produksi karet masih cukup melimbah di beberapa wilayah
perkebunan karet di Indonesia seperti Sumatera Utara dan Jawa Timur.
Menurut
Direktur Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo),
Rusdan Dalimunthe, produksi karet di Indonesia untuk tahun 2013
diprediksi akan mencapai 3,1 juta ton atau akan lebih tinggi
dibandingkan dengan produksi tahun lalu yang mencapai 3,04 juta ton.
Sedangkan dari segi harga, sampai dengan akhir bulan Mei lalu, harga
karet lokal masih fluktuatif dikisaran antara Rp 5000 – Rp 6000 per
kilogram.
Pasar sendiri cukup khawatir bahwa Indonesia akan
mengalami surplus produksi karet ditengah masih melambannya permintaan
karet global. Mengingat Indonesia saat ini berstatus sebagai eksportir
karet mentah yang sangat tergantung kepada kondisi fundamental ekonomi
global. Ditengah kondisi seperti itu, pemerintah harusnya mulai mulai
menggalakkan konsep pengolahan karet dari hulu ke hilir. Sehingga
potensi surplus produksi dan persediaan dapat ditanggulangi dengan
membangu industri-industri masif yang menggunakan karet sebagai salah
satu bahan baku utamanya. Dan disisi lain, kebijakan tersebut juga dapat
mendorong perekonomian dalam negeri dan dapat meningkatkan nilai tambah
bagi produk-produk yang berbahan dasar karet.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar